YAYASAN UMMAT MUALLAF RIAU
Sabtu, 07 Februari 2015
BERUNTUNGLAH HATI YANG MENUNTUN KEBENARAN
Hati memiliki dua kekuatan : Pertama, kekuatan ilmu dan pembeda. Kedua, kekuatan keinginan dan cinta. Kesempurnaan dan kebaikan hati bisa dicapai dengan menggunakan dua kekuatan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat baginya, serta untuk kebaikan dan kebahagiaan.
Kesempurnaan hati terletak pada kekuatan ilmu dalam mengetahui dan memahami kebenaran, serta dalam membedakan antara kebenaran itu dengan kebathilan.
Juga dengan menggunakan kekuatan keinginan dan cinta dalam mencari dan mencintai kebenaran serta dalam mengutamakan kebenaran daripada kebatilan.
Siapa yang tidak mengetahui kebenaran maka dia tersesat. Siapa yang mengetahui kebenaran tapi mengutamakan yang lain daripadanya maka dia adalah orang yang mendapat murka. Dan siapa yang mengetahui kebenaran itu lalu mengikutinya maka dia adalah orang yang mendapat kenikmatan.
Allah memerintahkan kita agar memohon kepada-Nya dalam shalat kita, supaya Dia menunjuki kita pada jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.
Karena itu, orang-orang Nasrani di sebut sebagai orang yang sesat sebab mereka adalah umat yang bodoh terhadap ajarannya.
Dan orang-orang Yahudi disebut sebagai orang-orang yang di murkai karena mereka adalah umat yang durhaka dan menentang.
Adapun umat ini (umat Islam) adalah umat yang mendapat anugerah nikmat.
Sufyan bin Uyainah berkata, "Siapa yang rusak dari orang-orang yang ahli ibadah diantara kita maka dia menyerupai orang-orang Nasrani. Dan siapa yang rusak dari ulama-ulama kita maka dia menyerupai orang-orang Yahudi.
Sebab orang-orang Nasrani menyembah Allah tanpa Ilmu, dan orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran tetapi mereka menyimpang darinya.
"Orang-orang Yahudi itu dimurkai, dan orang-orang Nasrani itu sesat ."(HR. Tirmidzi)
Allah mengkhabarkan bahwa orang-orang yang bahagia adalah adalah orang yang mengetahui kebenaran lalu mengikutinya, dan orang-orang celaka adalah orang yang tidak mengetahui kebenaran serta tersesat darinya, atau dia mengetahui nya tetapi ia menyelisihi dan mengikuti yang lain.
Dua kekuatan hati; "Kekutan ilmu dan pembeda" dan "kekuatan keinginan dan cinta" tidak akan pernah berhenti dalam hati. Jika dia tidak menggunakan kekuatan ilmiahnya untuk mengetahui dan memahami kebenaran maka ia akan menggunakannya untuk mengetahui kebatilan.
Jika tidak menggunakan kekuatan keinginan beramal untuk mengamalkan ketaatan maka dia akan menggunakan untuk yang sebaliknya.
Setiap manusia selalu bergerak dengan keinginan, dan pergerakannya dengan keinginan itu merupakan sesuatu yang lazim ada dalam dirinya. Jika yang tergambar, yang di cari dan yang diinginkannya itu bukan suatu kebenaran maka yang tergambar, yang di cari dan yang diinginkannya pasti akan berupa kebatilan.
"Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dengan kebenaran serta berbuat sabar." (Al-Asr 1-3)
SAAT DOSA KECIL MENJADI BESAR
Allah Ta’ala sangat senang terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman dan
taat beribadah. Ia jadikan shalat, puasa, wudhu dan berbagai ibadah
lainnya sebagai penghapus dosa-dosa kecil. Puasa asyuro menghapus dosa
setahun yang telah berlalu, puasa arafah menghapus dosa setahun yang
lalu dan setahun yang akan datang, berwudhu menghapus dosa bersamaan
dengan tetesan air yang menetes dari
anggota wudhu dan amalan-amalan lainnya. Artinya, dosa kecil akan
terhapus dengan bertaubat serta istighfar dan berbagai ibadah yang kita
lakukan.
Meski demikian, dosa kecil ini bisa menjadi besar dan bahkan menjadi lebih besar dari dosa besar karena beberapa sebab. Diantara sebab-sebab tersebut adalah;
PERTAMA - JIKA DILAKUKAN TERUS MENERUS
Sesuatu yang kecil, jika terus ditumpuk dan dikumpulkan, maka ia akan membesar. Sebuah peribahasa mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Demikian pula dengan dosa kecil. Jika ia terus diulang, ia pun menjadi besar.
Hati di ibaratkan sebuah kaca. Jika kaca yang kotor senantiasa dibersihkan dan dirawat, maka ia akan dapat dipakai untuk bercermin dan menampilkan pantulan sesuai aslinya. Tetapi jika kotor dan tidak pernah dibersihkan, maka kotoran akan menjadi sulit dibersihkan dan menjadi noda. Demikian pula hati, ia akan menjadi kotor dan sulit dibersihkan jika selalu melakukan dosa dan tidak ditaubati. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ{
“Sesungguhnya ketika seorang hamba melakukan satu dosa, maka dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia tinggalkan, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya akan dibersihkan. Jika dia mengulangi lagi, maka akan ditambahkan titik hitam itu sampai menutupi hatinya. Itulah ar-Ran, yang telah Allah sebutkan dalam firmannya:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak, tetapi disebabkan ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan apa yang telah mereka lakukan.” (HR. Tumudzi, no. 3334 dan dihasankan Al-Albani)
Allah Ta’ala juga menjelaskan tentang orang-orang yang diterima taubatnya adalah dengan tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
Dosa besar yang hanya dilakukan sekali, lebih bisa diharapkan pengampunannya dari pada dosa kecil yang dilakukan terus menerus, jika seorang hamba meremehkannya. Setiap kali seorang hamba menganggap besar sebuah dosa niscaya akan kecil di sisi Allah. Dan setiap kali ia menganggap remeh sebuah dosa niscaya akan menjadi besar di sisi-Nya.
Hati-hatilah dengan maksiat. Sesuatu yang mungkin kita anggap remeh, nampaknya hanya dosa kecil, segera hentikan. Itu akan menjadi kotoran dan noda hitam yang menutupi hati kita. Di saat itulah, cahaya ilmu, nasihat, dan kebenaran akan sulit masuk ke dalam relung hati manusia. Termasuk menghalangi dirinya untuk memahami pelajaran atau menghafalkannya.
KEDUA - MEREMEHKAN DOSA DAN MENGANGGAPNYA BIASA SAJA
Ada orang-orang yang ketika melakukan dosa kecil ia menganggapnya sebagai hal yang biasa, terhapus dengan sendirinya atau tidak mempedulikannya. “Ah, ini kan Cuma dosa kecil.” “Biasa, dosa seperti ini tidak menyebabkan masuk neraka.” Dan komentar-komentar sejenisnya. Padahal kayu yang kecil jika dikumpulkan akan bisa menjadi kayu yang banyak. Jika dinyalakan, akan dapat membakar apa saja yang masuk di dalamnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Perlu diketahui, menganggap kecil suatu dosa bisa menjadikannya menjadi besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa besar terkadang diiringi dengan rasa malu, takut, dan merasa bahwa dosa tersebut berbahaya sehingga ia menjadi kecil. Sementara dosa kecil yang dibarengi sedikit malu dan tidak digubris, tidak takut, dan diremehkan sehingga lama-kelamaan ia menjadi besar.
Dari sini ada dua sisi keburukan dari dosa-dosa kecil yang diremehkan: Pertama, seringnya dilakukan sehingga bisa menyebabkan kehancuran. Kedua, diremehkan dan dianggap kecil yang bisa menyebabkan besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang mukmin yang hatinya bersih, akan melihat seluruh kemaksiatan entah besar ataupun kecil sebagai dosa yang menghancurkan. Ia berusaha untuk menghentikannya dan tidak akan mengulangi. Sebaliknya, orang yang rusak hatinya akan melihat dosa dengan pandangan remeh karena dosa kecil. Sehingga jika dilakukan terus menerus ia tidak sadar terjerumus pada dosa besar yang menghancurkan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan gunung yang akan runtuh menimpa dirinya, sedangkan seorang pendosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang mencolok di hidungnya, cukup diusir dengan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” (HR. Al Bukhari)
KETIGA - APABILA DOSA ITU DILAKUKAN TERANG-TERANGAN
Apabila seseorang melakukan dosa, kemudian ia ceritakan dengan bangga kepada setiap orang tanpa rasa malu, maka dosa tersebut walaupun kecil akan menjadi besar. Karena ia tidak merasa menyesal dan bahkan bangga. Selain juga dapat mengundang hasrat orang lain yang mendengar atau melihatnya untuk ikut melakukan perbuatan dosa tersebut. Jadilah dua macam dosa terkumpul menjadi satu sehingga konsekuensinya menjadi lebih berat. Jika masih ditambah lagi dengan anjuran kepada orang lain dan ajakan untuk melakukannya, serta penyediaan sarana untuk melakukannya, jadilah empat kejahatan dalam satu perbuatan. Urusannya pun menjadi semakin jelek.
Dalam hadits disebutkan:
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»
“Setiap umatku diselamatkan kecuali orang-orang yang bersifat mujahir, dan sesungguhnya termasuk sikap mujahir adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan dalam keadaan telah ditutupi dosanya oleh Allah Ta’ala, lalu dia mengatakan: “Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini,” padahal Rabbnya telah menutupi (dosanya) tetapi di waktu pagi dia mengungkap penutup Allah tersebut dari dirinya.” (HR. Bukhari)
Yang demikian itu karena di antara sifat Allah dan karunia-Nya adalah bahwa Dia ingin menampakkan yang baik-baik dan menyembunyikan yang buruk-buruk. Allah juga tidak akan menyingkap tabir keburukan. Maka menampakkan keburukan, berarti kekufuran terhadap karunia kenikmatan Allah tersebut. Sebagian ulama berkata: Janganlah kamu berbuat dosa. Kalau kamu terpaksa berbuat dosa, janganlah kamu anjurkan orang lain melakukannya, yang menyebabkanmu melakukan dua dosa sekaligus.
KEEMPAT - JIKA YANG MELAKUKANNYA SEORANG ALIM YANG MENJADI PANUTAN
Karena apa yang ia lakukan dicontoh oleh orang lain. Ketika ia melakukan dosa, maka ia juga mendapatkan dosa orang yang mencontohnya. Rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda:
“…dan barang siapa memberi contoh keburukan dalam Islam maka baginya dosa perbuatan itu dan juga dosa orang yang mencontohnya setelah itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa itu dari pelakunya.” (HR. Muslim)
Itulah beberapa hal yang menjadikan dosa kecil menjadi besar di hadapan Allah Ta’ala. Kita berusaha menjauhi perkara-perkara di atas dan berusaha menjauhkan keluarga dan masyarakat kita dari perkara-perkara tersebut. Hanya kepada Allah kita memohon keistiqamahan dan kesucian jiwa kita. Wallahu a’lam.
______
Meski demikian, dosa kecil ini bisa menjadi besar dan bahkan menjadi lebih besar dari dosa besar karena beberapa sebab. Diantara sebab-sebab tersebut adalah;
PERTAMA - JIKA DILAKUKAN TERUS MENERUS
Sesuatu yang kecil, jika terus ditumpuk dan dikumpulkan, maka ia akan membesar. Sebuah peribahasa mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Demikian pula dengan dosa kecil. Jika ia terus diulang, ia pun menjadi besar.
Hati di ibaratkan sebuah kaca. Jika kaca yang kotor senantiasa dibersihkan dan dirawat, maka ia akan dapat dipakai untuk bercermin dan menampilkan pantulan sesuai aslinya. Tetapi jika kotor dan tidak pernah dibersihkan, maka kotoran akan menjadi sulit dibersihkan dan menjadi noda. Demikian pula hati, ia akan menjadi kotor dan sulit dibersihkan jika selalu melakukan dosa dan tidak ditaubati. Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ;
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ{
“Sesungguhnya ketika seorang hamba melakukan satu dosa, maka dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia tinggalkan, memohon ampun, dan bertaubat, maka hatinya akan dibersihkan. Jika dia mengulangi lagi, maka akan ditambahkan titik hitam itu sampai menutupi hatinya. Itulah ar-Ran, yang telah Allah sebutkan dalam firmannya:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak, tetapi disebabkan ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan apa yang telah mereka lakukan.” (HR. Tumudzi, no. 3334 dan dihasankan Al-Albani)
Allah Ta’ala juga menjelaskan tentang orang-orang yang diterima taubatnya adalah dengan tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
Dosa besar yang hanya dilakukan sekali, lebih bisa diharapkan pengampunannya dari pada dosa kecil yang dilakukan terus menerus, jika seorang hamba meremehkannya. Setiap kali seorang hamba menganggap besar sebuah dosa niscaya akan kecil di sisi Allah. Dan setiap kali ia menganggap remeh sebuah dosa niscaya akan menjadi besar di sisi-Nya.
Hati-hatilah dengan maksiat. Sesuatu yang mungkin kita anggap remeh, nampaknya hanya dosa kecil, segera hentikan. Itu akan menjadi kotoran dan noda hitam yang menutupi hati kita. Di saat itulah, cahaya ilmu, nasihat, dan kebenaran akan sulit masuk ke dalam relung hati manusia. Termasuk menghalangi dirinya untuk memahami pelajaran atau menghafalkannya.
KEDUA - MEREMEHKAN DOSA DAN MENGANGGAPNYA BIASA SAJA
Ada orang-orang yang ketika melakukan dosa kecil ia menganggapnya sebagai hal yang biasa, terhapus dengan sendirinya atau tidak mempedulikannya. “Ah, ini kan Cuma dosa kecil.” “Biasa, dosa seperti ini tidak menyebabkan masuk neraka.” Dan komentar-komentar sejenisnya. Padahal kayu yang kecil jika dikumpulkan akan bisa menjadi kayu yang banyak. Jika dinyalakan, akan dapat membakar apa saja yang masuk di dalamnya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Perlu diketahui, menganggap kecil suatu dosa bisa menjadikannya menjadi besar di sisi Allah Ta’ala. Dosa besar terkadang diiringi dengan rasa malu, takut, dan merasa bahwa dosa tersebut berbahaya sehingga ia menjadi kecil. Sementara dosa kecil yang dibarengi sedikit malu dan tidak digubris, tidak takut, dan diremehkan sehingga lama-kelamaan ia menjadi besar.
Dari sini ada dua sisi keburukan dari dosa-dosa kecil yang diremehkan: Pertama, seringnya dilakukan sehingga bisa menyebabkan kehancuran. Kedua, diremehkan dan dianggap kecil yang bisa menyebabkan besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang mukmin yang hatinya bersih, akan melihat seluruh kemaksiatan entah besar ataupun kecil sebagai dosa yang menghancurkan. Ia berusaha untuk menghentikannya dan tidak akan mengulangi. Sebaliknya, orang yang rusak hatinya akan melihat dosa dengan pandangan remeh karena dosa kecil. Sehingga jika dilakukan terus menerus ia tidak sadar terjerumus pada dosa besar yang menghancurkan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan gunung yang akan runtuh menimpa dirinya, sedangkan seorang pendosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang mencolok di hidungnya, cukup diusir dengan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” (HR. Al Bukhari)
KETIGA - APABILA DOSA ITU DILAKUKAN TERANG-TERANGAN
Apabila seseorang melakukan dosa, kemudian ia ceritakan dengan bangga kepada setiap orang tanpa rasa malu, maka dosa tersebut walaupun kecil akan menjadi besar. Karena ia tidak merasa menyesal dan bahkan bangga. Selain juga dapat mengundang hasrat orang lain yang mendengar atau melihatnya untuk ikut melakukan perbuatan dosa tersebut. Jadilah dua macam dosa terkumpul menjadi satu sehingga konsekuensinya menjadi lebih berat. Jika masih ditambah lagi dengan anjuran kepada orang lain dan ajakan untuk melakukannya, serta penyediaan sarana untuk melakukannya, jadilah empat kejahatan dalam satu perbuatan. Urusannya pun menjadi semakin jelek.
Dalam hadits disebutkan:
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ»
“Setiap umatku diselamatkan kecuali orang-orang yang bersifat mujahir, dan sesungguhnya termasuk sikap mujahir adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan (dosa) di malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan dalam keadaan telah ditutupi dosanya oleh Allah Ta’ala, lalu dia mengatakan: “Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini,” padahal Rabbnya telah menutupi (dosanya) tetapi di waktu pagi dia mengungkap penutup Allah tersebut dari dirinya.” (HR. Bukhari)
Yang demikian itu karena di antara sifat Allah dan karunia-Nya adalah bahwa Dia ingin menampakkan yang baik-baik dan menyembunyikan yang buruk-buruk. Allah juga tidak akan menyingkap tabir keburukan. Maka menampakkan keburukan, berarti kekufuran terhadap karunia kenikmatan Allah tersebut. Sebagian ulama berkata: Janganlah kamu berbuat dosa. Kalau kamu terpaksa berbuat dosa, janganlah kamu anjurkan orang lain melakukannya, yang menyebabkanmu melakukan dua dosa sekaligus.
KEEMPAT - JIKA YANG MELAKUKANNYA SEORANG ALIM YANG MENJADI PANUTAN
Karena apa yang ia lakukan dicontoh oleh orang lain. Ketika ia melakukan dosa, maka ia juga mendapatkan dosa orang yang mencontohnya. Rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda:
“…dan barang siapa memberi contoh keburukan dalam Islam maka baginya dosa perbuatan itu dan juga dosa orang yang mencontohnya setelah itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa itu dari pelakunya.” (HR. Muslim)
Itulah beberapa hal yang menjadikan dosa kecil menjadi besar di hadapan Allah Ta’ala. Kita berusaha menjauhi perkara-perkara di atas dan berusaha menjauhkan keluarga dan masyarakat kita dari perkara-perkara tersebut. Hanya kepada Allah kita memohon keistiqamahan dan kesucian jiwa kita. Wallahu a’lam.
______
Jumat, 06 Februari 2015
Tentang Kami
Yayasan Ummat Muallaf Riau
1. Latar Belakang
Di luar pengetahuan kita, banyak sekali masyarakat non
Muslim yang secara tidak langsung tersentuh oleh akhlak atau ajaran Islam, hal
ini bisa terjadi disebabkan pergaulan sehari hari dengan orang terdekat yang
Muslim, lingkungan yang mayoritas Muslim atau juga kebenaran ajaran Islam yang
dapat diterima dengan logika bahkan dari mimpi.
Untuk mereka kalangan non Muslim
sangatlah tidak mungkin mereka bisa langsung menyadari bahwa itu adalah
sentuhan hidayah Allah.SWT, karena mereka belum mengenal Allah.SWT, bahkan
adakalanya bagi sebagian masyarakat atau ras tertentu menerima ajaran dan
memeluk agama Islam adalah sangat tabu, sehingga tentulah sangat sulit bagi
mereka untuk bisa lebih lagi memahami hidayah yang mereka terima.
Namun ada juga sebagian dari mereka
dengan yakin dan mantap menyatakan untuk memeluk agama Islam meskipun ada
penolakan dan pertentangan dari lingkungan nya bahkan orang-orang terdekat
mereka.Tidak sedikit dari mereka yang rela meninggalkan pekerjaan, harta,
keluarga mereka dengan resiko kehilangan kehidupan mereka yang sebelumnya
berkecukupan harta dan kasih sayang yang ditukarnya dengan kehidupan yang terkucil
dan masa depan yang seakan suram.
Mereka para calon Muallaf dan
Muallaf ini memerlukan bantuan ,perhatian dan bimbingan untuk menjadi muslim
yang kuat dan kaaffah, oleh karenanya upaya untuk mewujudkannya adalah suatu
keniscayaan.
Terdorong dengan gambaran nyata
diatas, maka tercetus ide untuk membentuk komunitas pembinaan muallaf ini yang
diawali di Tualang dengan berkumpulnya beberapa muallaf pada 30 Mei 2010
dan kemudian berlanjut dengan mengadakan pembinaan rutin untuk muallaf ditiap
minggunya di bawah bimbingan Ustadz Edison Barus. Kemudian kegiatan ini
terus berlanjut di Siak dan Riau yang dibimbing oleh KH.Amiruddin.
Agenda tersebut terus berlangsung,
sehingga diambil suatu kesimpulan kegiatan ini harus memiliki legalisasi hukum
guna menghindari fitnah sehubungan dengan menjamurnya aliran sesat di tanah
air. Dengan berbekal niat baik dan memenuhi panggailan agama maka YUMRI yang memiliki kepanjangan Yayasan Ummat Muallaf Riau Menuju Hidayah diresmikan
di Notaris.
A. Landasan-landasan
1. Ideologis Al Qur’an
- Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. ( QS. At-Taubah:60 )
- Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( QS. As-Shaff : 4 )
As-Sunah
حَدَّثَنَا مُوسَى
بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ
يَحْيَى عَنْ
عَبَّادِ بْنِ
تَمِيمٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ
بْنِ عَاصِمٍ قَالَ
لَمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمَ حُنَيْنٍ قَسَمَ
فِي النَّاسِ فِي
الْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَلَمْ يُعْطِ
الْأَنْصَارَ
Telah disampaikan kepada kami dari
Musa bin Ismail yang telah disampaikan oleh Wuhaib yang telah disampaikan oleh
Amru bin Yahya dari Abbad bin Tamim dari Abbullah bin Zaid bin Ashim berkata :
ketika Allah mengkaruniakan kepada rasulnya harta rampasan dalam perang hunain
beliau membagikannya ( harta tersebut) kepada para mualaf dan tidak
membagikannya kepada kaum anshar sama sekali ( HR. Bukhari).
عَنْ أَبِي مُوسَى
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ
يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
Dari Abi Musa bahwasanya Rasulullah
SAW bersabda : Mukmin satu bagi mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling
menguatkan satu sama lainnya dan beliau merapatkan jemarinya (HR. Bukhari)
Atsar Shahabah
Kebenaran yang tidak teratur dan
terencana akan dikalahkan oleh kebathilan yang terencana dan rapi (Imam Ali bin
Abi Thalib Radhiallâhu 'anhu).
1. Landasan Konstitutional.
UUD 45 Pasal 28E :
Setiap orang berhak atas kebebasan
berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat
UUD 45 Pasal 29:
- Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
- Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan tunduk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Langganan:
Komentar (Atom)